Berita

Warung Tuak Ditutup Permanen? Aktivis HAM Bilang Begini

Sasamboinside.com – Direktur Lembaga Studi Advokasi Demokrasi Rakyat dan Hak Asasi (Lesa Demarkasi), Hasan Masat, angkat bicara terkait rencana Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) yang berniat menutup permanen warung atau kafe tuak di Desa Suranadi dan sekitarnya.

Menurut Pemkab Lobar, penutupan ini didasarkan pada alasan keamanan, ketertiban, serta dugaan praktik prostitusi yang berpotensi menjadi sarang penyebaran HIV/AIDS.

Namun, bagi Hasan, yang akrab disapa Bang Hasan, kebijakan tersebut tidak boleh hanya berpijak pada sisi negatif tanpa mempertimbangkan dampak lain yang lebih luas.

“Alasan yang disampaikan Pemkab Lobar memang masuk akal. Keamanan dan ketertiban adalah hal penting, begitu juga dengan kekhawatiran soal prostitusi dan HIV/AIDS. Tapi, jangan sampai kita terjebak hanya melihat dimensi buruknya saja,” ujar Hasan dalam pernyataannya, Rabu (26/2/25).

Aktivis senior yang dikenal vokal di isu hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi ini menekankan bahwa Pemkab Lobar tidak boleh mengabaikan aspek ekonomi masyarakat yang bergantung pada usaha warung tuak.

Hasan menilai, tugas pemerintah daerah bukan hanya menutup masalah, tetapi juga mencari jalan tengah melalui komunikasi, penertiban, pengawasan, dan pembinaan.

“Ajak masyarakat bicara, dengar keluhan dan alasan mereka. Penataan perizinan, pembuatan tata tertib, atau batasan-batasan yang jelas bisa jadi solusi yang lebih bijak ketimbang penutupan permanen,” paparnya.

Ia juga mengingatkan peran penting DPRD, khususnya anggota legislatif dari daerah pemilihan (dapil) Desa Suranadi dan sekitarnya, untuk turun tangan.

“Teman-teman DPRD seharusnya jadi mediator, menyerap pendapat dan pandangan masyarakat, bahkan melihat langsung keadaan di lapangan,” imbuhnya.

Menariknya, Hasan menyentil soal konteks waktu. Ia menyebut bahwa penutupan warung tuak selama bulan Ramadhan kemungkinan besar akan diterima masyarakat.

“Untuk Ramadhan, semua saya kira setuju untuk tutup. Tapi kalau permanen atau selamanya, saya rasa itu kurang bijak. Masih banyak solusi yang bisa ditempuh Pemkab Lobar,” tegasnya.

Pernyataan Hasan ini menjadi sorotan karena menawarkan sudut pandang yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif.

Ia mengajak semua pihak, pemerintah, legislatif, dan masyarakat untuk duduk bersama mencari titik temu, alih-alih mengambil langkah sepihak yang berpotensi memicu ketegangan sosial.

SaSaMbo Inside

Recent Posts

Kapolresta Loteng Sebut Bukti Belum Kuat, Pengacara Gobres Klaim 2 Alat Bukti Sudah Terpenuhi

Sasamboinside.com - Kapolresta Lombok Tengah Kombes Pol. Hariyanto memberikan tanggapan terkait pemberitaan media online Sasamboinside.com…

6 jam ago

Alat Bukti Disebut Cukup, Kasus Gobres Hampir Setahun Belum Ada Tersangka, Kinerja Penyidik Polsek Praya Tengah Disorot

Sasamboinside.com — Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang melibatkan konten kreator Heri Setiawan alias Gobres…

2 hari ago

Hari Indonesia Menabung 2026: Bank NTB Syariah Bangun Budaya Menabung untuk Kemandirian Ekonomi Masyarakat NTB

Sasamboinside.com — Semangat membangun budaya menabung sejak dini kembali digaungkan melalui peringatan Hari Indonesia Menabung…

2 hari ago

Watch Party MotoGP Aragon di Malang, Antusiasme Menuju MotoGP Mandalika Makin Tinggi

Sasamboinside.com – Antusiasme terhadap MotoGP terus bergulir di berbagai daerah menjelang Pertamina Grand Prix of…

2 hari ago

Catut Nama Pejabat Polda NTB, Pria Asal Lombok Utara Tipu Pengusaha dan UMKM

Sasamboinside.com – Modus penipuan dengan mencatut nama pejabat kepolisian kembali terjadi di wilayah Nusa Tenggara…

2 hari ago

MotoGP Mandalika 2026 Promosi di GATF, Tawarkan Paket Wisata Terintegrasi

Sasamboinside.com – Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memanfaatkan momentum Garuda Indonesia Travel Festival (GATF)…

2 hari ago