OPINI

Membaca Ulang Demokrasi, Menimbang Relevansi Pilkada melalui DPRD

OPINI
Oleh: Herianto, S.P. (Eks Korpus BEM SI & Ketua AMPG NTB)
Setiap perubahan dalam sistem demokrasi selalu memantik perdebatan. Wacana pilkada melalui DPRD pun tidak terkecuali.
Sebagian melihatnya sebagai kemunduran demokrasi, sebagian lain memaknainya sebagai upaya penataan ulang sistem pemerintahan.
Dalam situasi seperti ini, publik terutama pemuda perlu diajak keluar dari dikotomi pro dan kontra yang simplistik, menuju pembacaan yang lebih jernih dan substansial.
Saya memandang isu ini bukan semata sebagai persoalan teknis elektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya negara menyolidkan kerja-kerja pemerintahan agar lebih efektif dan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Pandangan ini saya bangun dari dua pengalaman yang membentuk cara berpikir saya sebagai eks Korpus BEM SI, yang tumbuh dalam kultur kritis gerakan mahasiswa, dan sebagai Ketua AMPG NTB, yang berproses langsung di dalam sistem kepartaian.
Pengalaman di ruang gerakan mengajarkan saya pentingnya kontrol publik dan keberanian mengkritik kekuasaan.
Sementara pengalaman di dalam partai mengajarkan satu hal yang sering luput dari perdebatan publik adalah pemerintahan membutuhkan stabilitas, kesinambungan, dan keselarasan arah agar kebijakan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi hadir sebagai kerja nyata.
Dalam kerangka negara kesatuan, kepala daerah pada hakikatnya adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat.
Ia bertugas menerjemahkan agenda nasional ke dalam kebijakan daerah yang konkret dan operasional.
Ketika kepala daerah lahir dari proses politik yang penuh fragmentasi, konflik kepentingan, dan tarik-menarik elektoral yang panjang, energi pemerintahan sering habis untuk konsolidasi politik, bukan pelayanan publik.
Di sinilah pilkada melalui DPRD menemukan relevansinya. Sistem ini membuka ruang bagi sinkronisasi antara pemerintah pusat, partai politik, dan pemerintah daerah.
Dengan catatan penting bahwa mekanisme ini harus dijalankan secara transparan, akuntabel, dan berada dalam pengawasan publik yang kuat. Tanpa pengawasan, sistem apa pun akan kehilangan legitimasi moral.
Pancasila sendiri tidak menempatkan demokrasi hanya pada pemilihan langsung. Demokrasi Indonesia sejak awal dirancang sebagai demokrasi perwakilan yang berlandaskan musyawarah dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, mendukung pilkada melalui DPRD tidak berarti mengingkari Pancasila, justru dapat menjadi ikhtiar untuk menghidupkan kembali nilai efisiensi, kebersamaan, dan orientasi pada keadilan sosial.
Problem utama demokrasi hari ini bukan sekadar soal sistem, melainkan kualitas aktor dan kesadaran politik masyarakat.
Ketika pemuda terjebak pada romantisme prosedural dan kehilangan minat membaca sistem secara utuh, ruang-ruang pengambilan keputusan justru dikuasai oleh kepentingan sempit. Inilah yang harus dikoreksi bersama.
Bagi saya, dukungan terhadap sistem pilkada melalui DPRD adalah bentuk keberpihakan pada percepatan kerja-kerja negara.
Negara harus hadir lebih cepat, lebih solid, dan lebih terukur dalam menjawab persoalan rakyat mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kesejahteraan sosial. Dalam kondisi tertentu, efektivitas pemerintahan adalah bagian dari keadilan itu sendiri.
Pemuda tidak dituntut untuk selalu menjadi oposisi, tetapi untuk menjadi penjaga nalar publik. Melek sistem, memahami relasi kekuasaan, dan berani bersikap berdasarkan analisis, bukan sekadar emosi.
Dengan cara inilah sisa-sisa nilai Pancasila dapat dijaga agar tidak sekadar menjadi simbol, tetapi tetap hidup dalam praktik bernegara.
Demokrasi Indonesia tidak membutuhkan kegaduhan yang melelahkan, melainkan kedewasaan politik. Dan kedewasaan itu lahir dari keberanian membaca ulang sistem, lalu memilih sikap yang paling rasional demi kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.
SaSaMbo Inside

Recent Posts

Porwada PWI NTB 2026 Resmi Bergulir

Sasamboinside.com – Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Barat (NTB)…

3 jam ago

Gubernur Iqbal Dijadwalkan Hadir di Porwada PWI NTB 2026

Sasamboinside.com – Hajatan akbar Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara…

2 hari ago

Gencarkan Gempur Rokok Ilegal, Satpol PP Loteng Pasang Baliho di 5 Titik Strategis

Sasamboinside.com – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus…

2 hari ago

Tiket Early Bird MotoGP Mandalika 2026 Ludes dalam Sepekan, Presale 1 Resmi Dibuka

Sasamboinside.com – Antusiasme masyarakat terhadap gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang akan berlangsung…

2 hari ago

‎Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Loteng Salurkan Air Bersih di Praya Timur

Sasamboinside.com – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Lombok Tengah melalui Satuan Samapta melaksanakan…

2 hari ago

Kakek 70 Tahun di Kuripan Jadi Tersangka Kasus Persetubuhan Anak 11 Tahun

Sasamboinside.com - Polres Lombok Barat menaikkan status penanganan perkara dugaan tindak pidana persetubuhan anak yang…

4 hari ago