OPINI

Pesona Bau Nyale, Tradisi Legendaris Putri Mandalika yang Terus Hidup di Lombok

Sasamboinside.com – Tradisi Bau Nyale menjadi salah satu kekayaan budaya paling ikonik dan selalu dinantikan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Setiap tahun, masyarakat Sasak bersama wisatawan dari berbagai daerah berkumpul di sepanjang pesisir pantai untuk mengikuti ritual menangkap nyale, cacing laut yang tidak hanya unik secara alami, tetapi juga sarat makna legenda.
Perayaan ini bukan sekadar atraksi budaya, melainkan simbol spiritual, kebersamaan, serta identitas masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Secara bahasa, kata bau dalam Bahasa Sasak berarti “mengambil” atau “menangkap”, sedangkan nyale merujuk pada cacing laut bernama latin EubicaFucata yang memiliki bentuk menyerupai cacing, namun lebih panjang dengan warna berkilau menyerupai pelangi.
Dari makna tersebut, Bau Nyale dapat diartikan sebagai tradisi menangkap cacing laut, yang bagi masyarakat lokal bukan sekadar aktivitas alam, tetapi juga bagian dari ritual budaya yang sakral.
Sejarah Bau Nyale erat kaitannya dengan legenda Putri Mandalika, kisah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sasak.
Dikisahkan, sang putri yang terkenal akan kecantikan dan kebijaksanaannya diperebutkan oleh banyak pangeran.
Untuk menghindari pertumpahan darah akibat persaingan tersebut, Putri Mandalika memilih mengorbankan dirinya dengan menceburkan diri ke laut.
Masyarakat percaya ia kemudian menjelma menjadi nyale yang muncul setiap tahun sebagai simbol pengorbanan, kedamaian, dan harapan akan kesejahteraan.
Pelaksanaan Bau Nyale biasanya berlangsung pada Februari hingga Maret, mengikuti kalender Sasak, tepatnya tanggal 20 bulan ke-10.
Pantai Seger di kawasan Kuta Mandalika, Lombok Tengah, menjadi pusat utama perayaan, meski sejumlah pantai lain di Lombok juga ramai dipadati masyarakat.
Sejak dini hari menjelang fajar, warga berbondong-bondong ke pesisir membawa alat sederhana untuk menangkap nyale yang dipercaya membawa keberuntungan.
Selain dijadikan bahan makanan khas, nyale juga memiliki nilai ritual dalam tradisi adat setempat.
Bagi siapa pun yang ingin merasakan pengalaman budaya yang unik dan autentik, Bau Nyale menawarkan perpaduan antara legenda, tradisi, dan keindahan alam Lombok.
Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga bukti kuat bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
SaSaMbo Inside

Recent Posts

Gubernur Iqbal Dijadwalkan Hadir di Porwada PWI NTB 2026

Sasamboinside.com – Hajatan akbar Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara…

1 hari ago

Gencarkan Gempur Rokok Ilegal, Satpol PP Loteng Pasang Baliho di 5 Titik Strategis

Sasamboinside.com – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus…

1 hari ago

Tiket Early Bird MotoGP Mandalika 2026 Ludes dalam Sepekan, Presale 1 Resmi Dibuka

Sasamboinside.com – Antusiasme masyarakat terhadap gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang akan berlangsung…

2 hari ago

‎Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Loteng Salurkan Air Bersih di Praya Timur

Sasamboinside.com – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Lombok Tengah melalui Satuan Samapta melaksanakan…

2 hari ago

Kakek 70 Tahun di Kuripan Jadi Tersangka Kasus Persetubuhan Anak 11 Tahun

Sasamboinside.com - Polres Lombok Barat menaikkan status penanganan perkara dugaan tindak pidana persetubuhan anak yang…

4 hari ago

Wabup Nursiah Terima Pengakuan Resmi BSSN, Lombok Tengah Perkuat Tata Kelola Siber

Sasamboinside.com – Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. HM. Nursiah, S.Sos., M.Si., menerima Surat Tanda Registrasi…

4 hari ago