Berita

Kejutan di Tengah Perang: Bitcoin Kalahkan Emas, Ini Penyebabnya!

Dinamika pasar global kembali menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi aset lindung nilai (safe haven), di mana Bitcoin (BTC) mulai mengungguli emas di tengah ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Data terbaru mencatat Bitcoin mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 10% sejak akhir Februari, sementara emas justru terkoreksi hingga 19% dari level tertingginya.

Perubahan ini turut tercermin dari arus dana institusional. Produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencatat outflow hingga US$7,9 miliar, sedangkan Bitcoin menarik inflow lebih dari US$1,1 miliar hanya dalam dua pekan awal konflik. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan yield obligasi global dan lonjakan harga minyak, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai bahwa pergeseran ini menandai evolusi peran Bitcoin dalam lanskap keuangan global.

“Bitcoin kini semakin dilihat sebagai alternatif safe haven modern. Di tengah ketidakpastian global, investor membutuhkan aset yang tidak hanya aman, tetapi juga likuid dan dapat diakses kapan saja. Karakteristik ini yang membuat Bitcoin semakin relevan dibandingkan instrumen tradisional seperti emas,” ujar Calvin.

Faktor Institusi dan Dinamika Permintaan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi tarik-menarik antara dorongan institusional dan ketidakpastian permintaan korporasi. Sejumlah institusi besar seperti BlackRock terus memperkuat ekspansi di sektor aset digital, mencerminkan meningkatnya komitmen terhadap kripto.

Namun, sinyal pasar menjadi lebih kompleks setelah Strategy, salah satu pembeli Bitcoin terbesar, diduga menghentikan sementara akumulasi rutinnya setelah 13 minggu berturut-turut membeli BTC. Hal ini berpotensi mengurangi salah satu sumber permintaan besar yang selama ini menopang harga.

“Masuknya institusi besar tetap menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang Bitcoin. Namun, pasar juga sensitif terhadap perubahan perilaku pemain besar. Ketika salah satu pembeli utama melambat, volatilitas jangka pendek bisa meningkat,” jelas Calvin.

Kelangkaan Pasokan Jadi Katalis Jangka Menengah-Panjang

Dari sisi fundamental, Bitcoin tetap didukung oleh mekanisme pasokan yang terbatas. Halving berikutnya yang dijadwalkan pada April 2028 akan kembali mengurangi laju suplai Bitcoin baru ke pasar.

Di saat yang sama, Tim Riset Tokocrypto melihat akumulasi oleh ETF dan perusahaan publik terus meningkat, yang secara struktural memperketat ketersediaan Bitcoin di pasar.

“Secara historis, siklus halving selalu menjadi katalis bullish dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan permintaan yang tetap atau meningkat, kelangkaan pasokan akan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga Bitcoin ke depan,” tambah Calvin.

Prospek Harga Bitcoin ke Depan

Meski demikian, sentimen pasar saat ini masih berada dalam tekanan. Indeks Crypto Fear & Greed menunjukkan level “Extreme Fear” di angka 8/100, yang secara historis sering menjadi sinyal pembalikan arah (contrarian signal).

Dengan kombinasi faktor tersebut, prospek Bitcoin ke depan diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek, namun konstruktif dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam skenario optimistis, jika arus masuk institusional berlanjut dan kondisi makro stabil, Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$75.000 hingga US$80.000 dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, dalam skenario konservatif, tekanan dari suku bunga tinggi dan volatilitas pasar dapat menahan Bitcoin di kisaran US$60.000–US$65.000.

Calvin menegaskan bahwa investor perlu memahami karakteristik Bitcoin yang unik dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.

“Bitcoin sedang berada di fase transisi, dari aset spekulatif menjadi bagian penting dari sistem keuangan global. Volatilitas akan tetap ada, tetapi arah jangka panjangnya menunjukkan penguatan fundamental yang signifikan,” tutupnya.

Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, serta arus dana institusional dalam menentukan strategi investasi di aset kripto.

About Tokocrypto
Tokocrypto adalah pedagang aset kripto No.1 di Indonesia yang berdiri sejak 2018 dan terdaftar di OJK sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), serta menjadi anggota Bursa dan Kliring Kripto. Dengan dukungan dari Binance, Tokocrypto menawarkan layanan investasi kripto yang aman, transparan, dan mudah digunakan. Platform ini mencatat rata-rata nilai transaksi harian sebesar US$30 juta, menyediakan lebih dari 480 token/koin dan 600 pasangan perdagangan, serta telah dipercaya oleh lebih dari 4,5 juta pengguna di Indonesia. Informasi lebih lanjut, kunjungi: www.tokocrypto.com.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES
Julian 1

Recent Posts

Ekspansi ke NTB, BRI Finance Perluas Akses Pembiayaan dan Perkuat Dampak Sosial

PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menegaskan komitmennya untuk menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat seiring…

14 jam ago

Polisi Ringkus Bandar Narkoba di Lombok Timur, 1 Kg Sabu Diamankan

Sasamboinside.com - Satuan Reserse Narkoba (Satnarkoba) Polres Lombok Timur (Lotim) berhasil meringkus seorang pria berinisial…

16 jam ago

Redam ‘Pengadilan Netizen’, Kejari Loteng Transparan Soal Penanganan Kasus

Sasamboinside.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah buka-bukaan soal data penanganan perkara selama awal tahun…

1 hari ago

Pengendara Tewas Tertimpa Pohon di Praya Tengah, Polisi Turun ke TKP

Sasamboinside.com - Seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia setelah tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya…

1 hari ago

FKD Berharap Dugaan Kades Durian Aniaya Guru Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Sasamboinside.com – Sekretaris Jenderal Forum Kepala Desa (Sekjen FKD) Kabupaten Lombok Tengah, Suhaidi SE, angkat…

1 hari ago

200 Marshal Lokal Siap Sukseskan GT World Challenge Asia 2026 di Mandalika

Sasamboinside.com – Penyelenggaraan GT World Challenge Asia 2026 yang akan digelar pada 1–3 Mei 2026…

2 hari ago