Sasamboinside.com – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus memperkuat The Mandalika sebagai destinasi pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada penyelenggaraan event, tetapi menghadirkan pengalaman yang memadukan sport, lifestyle, budaya, alam, serta keterlibatan masyarakat lokal.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Mandalika Art & Culture Performance (MACP) yang kembali menghadirkan Drama Tari Legenda Putri Mandalika di Bazaar Mandalika, Sabtu (22/8).
Legenda yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Lombok tersebut dibawakan oleh sanggar seni SakSak Dance melalui perpaduan drama, tari, dan musik.
Program ini merupakan kolaborasi ITDC bersama Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan masyarakat sekitar kawasan, serta menjadi bagian dari upaya menjadikan kekayaan budaya dan kearifan lokal sebagai salah satu elemen utama pengalaman berwisata di The Mandalika.
Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan bahwa pengembangan The Mandalika ke depan diarahkan lebih luas sebagai sebuah destinasi yang memiliki cerita, karakter, dan pengalaman yang kuat.
“Kami ingin The Mandalika tumbuh bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya event, tetapi sebagai destinasi yang memiliki cerita, karakter, dan pengalaman yang kuat. Budaya Lombok adalah bagian penting dari DNA The Mandalika. Karena itu, seni, tradisi, serta keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan setiap pengunjung ketika datang ke Mandalika,” ujar Ahmad Fajar.
Menurutnya, berbagai event berskala nasional maupun internasional memiliki peran penting sebagai traffic puller yang membawa semakin banyak orang datang dan mengenal The Mandalika.
Namun, pengalaman destinasi yang kuat menjadi faktor penting agar pengunjung tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak aktivitas, dan memiliki alasan untuk kembali.
“Event menjadi salah satu penggerak kunjungan dan national branding. Tetapi kekuatan sebuah destinasi tidak berhenti pada event. Budaya, alam, lifestyle, sport, kuliner, hospitality, dan masyarakat lokal harus tumbuh menjadi satu ekosistem pengalaman. Inilah yang ingin terus kami bangun di The Mandalika,” lanjut Ahmad Fajar.
Drama Tari Legenda Putri Mandalika menjadi salah satu bentuk bagaimana cerita lokal dapat diaktualisasikan menjadi atraksi destinasi.
Melalui seni pertunjukan, pengunjung tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga dapat mengenal kisah, nilai, dan identitas budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari The Mandalika.
MACP pertama kali diselenggarakan pada 31 Januari 2026 dan terus dikembangkan sebagai ruang bagi seni budaya lokal serta masyarakat sekitar untuk terlibat aktif sebagai pelaku dalam pengembangan destinasi.
Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menyebut bahwa pementasan Legenda Putri Mandalika merupakan salah satu cara menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan pariwisata.
“Legenda Putri Mandalika merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Lombok yang telah diwariskan lintas generasi. Ketika cerita ini dihadirkan kembali melalui drama, tari, dan musik serta melibatkan masyarakat sebagai pelakunya, pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menjaga warisan, tetapi juga memberi ruang agar budaya terus hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Lalu Suryadi Mulawarman.
Pelaksanaan MACP kali ini semakin semarak dengan kehadiran The Dudas Minus One, yang terdiri dari Raffi Ahmad, Nazril Irham (Ariel), Gading Marten, dan Deddy Mahendra Desta (Desta).
Kehadiran mereka turut memberikan amplifikasi terhadap pengalaman menikmati sisi lain The Mandalika, tidak hanya sebagai lokasi berbagai event besar, tetapi juga sebagai destinasi yang menawarkan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Mereka juga mengapresiasi perkembangan The Mandalika yang terus menunjukkan perubahan positif dari tahun ke tahun, termasuk keterlibatan masyarakat lokal dalam MACP yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk tampil, berkarya, serta menjadi bagian langsung dari pertumbuhan pariwisata di wilayahnya.
ITDC memandang keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan destinasi berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan The Mandalika diarahkan tidak hanya untuk menciptakan kunjungan, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan budaya lokal tumbuh, pelaku kreatif mendapatkan ruang, UMKM berkembang, dan manfaat ekonomi pariwisata semakin luas dirasakan masyarakat.
“Ke depan, kami ingin The Mandalika semakin hidup sepanjang tahun. Event berskala internasional akan tetap menjadi penggerak kunjungan dan national branding, namun pengalaman budaya, alam, lifestyle, sport, kuliner, serta keterlibatan masyarakat akan menjadi kekuatan yang membuat Mandalika memiliki karakter dan alasan untuk selalu dikunjungi kembali,” kata Ahmad Fajar.
Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan aktivitas destinasi menuju berbagai agenda besar di The Mandalika.
Menjelang penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, ITDC terus mendorong berbagai aktivitas dalam semangat Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, sehingga momentum event internasional tersebut tidak hanya menghadirkan perlombaan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan secara lebih luas kekayaan The Mandalika dan Lombok kepada Indonesia dan dunia.
Pertamina Grand Prix of Indonesia membawa dunia datang ke The Mandalika.
Budaya, alam, dan masyarakatnya memberikan alasan bagi dunia untuk mengenal Mandalika lebih dalam. Melalui penguatan atraksi budaya, sport, lifestyle, serta berbagai pengalaman destinasi lainnya, ITDC terus mendorong The Mandalika berkembang sebagai The Ultimate Lifestyle Sportstainment Destination yang berkelas dunia, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
















Tidak ada Respon