Example floating
Example floating
IMG-20260829-WA0012

Pilkades Bukan Sekadar Pertarungan Kekuasaan, tetapi Ujian Kedewasaan Politik

A-AA+A++

OPINI: Oleh Rendi Rofian, Mahasiswa Pasca UMMAT

Petarung Sejati Harus Tahu Kapan Berjuang dan Kapan Legowo

IMG-20260816-WA0004

Sasamboinside.com – Pemilihan Kepala Desa bukan sekadar arena perebutan jabatan. Di dalamnya terdapat proses politik lokal yang mempertemukan aspirasi, kepentingan, jaringan sosial, serta preferensi politik masyarakat.

Karena itu, setiap kandidat yang masuk dalam kontestasi sesungguhnya sedang berhadapan dengan satu prinsip fundamental demokrasi: kedaulatan berada di tangan masyarakat.

Dalam perspektif ilmu politik, kemenangan elektoral memberikan legitimasi politik kepada kandidat yang memperoleh kepercayaan masyarakat.

Sebaliknya, ketika hasil pemilihan tidak sesuai dengan harapan seorang kandidat, sikap menerima hasil secara dewasa merupakan bagian dari kematangan politik (political maturity).

Penelitian mengenai politik lokal menunjukkan bahwa Pilkades tidak hanya berkaitan dengan pilihan individual pemilih, tetapi juga dipengaruhi hubungan sosial, komunikasi politik, kedekatan interpersonal, pengalaman kolektif, serta dinamika kekuasaan di tingkat lokal.

Maka, petarung sejati bukan hanya mereka yang berani maju, tetapi mereka yang berani menerima konsekuensi dari pertarungan.

Berani mencalonkan diri berarti siap diuji oleh masyarakat. Berani berkampanye berarti siap menerima penilaian publik.

Dan berani bertarung dalam kontestasi demokrasi berarti harus siap terhadap dua kemungkinan: mendapat mandat atau menerima kenyataan bahwa mandat tersebut belum menjadi miliknya.

Di sinilah makna sadar diri menjadi penting. Sadar diri bukan berarti merendahkan diri. Sadar diri adalah kemampuan membaca realitas politik secara objektif, melakukan evaluasi terhadap kekuatan dan kelemahan, serta memahami bahwa suara masyarakat tidak dapat dipaksakan melalui ambisi pribadi.

Begitu pula dengan legowo. Legowo bukan tanda seorang petarung kehilangan harga diri. Justru kemampuan menerima hasil secara damai menunjukkan bahwa kepentingan masyarakat ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.

Dalam demokrasi lokal, kekalahan elektoral bukanlah kehancuran politik dan kemenangan bukanlah legitimasi untuk berlaku semena-mena. Keduanya merupakan bagian dari proses sirkulasi kepemimpinan di tingkat desa.

Kajian tentang demokrasi desa juga menempatkan Pilkades sebagai ruang pemberian legitimasi masyarakat kepada calon yang dipilih.

Karena itu, kualitas demokrasi tidak berhenti pada hari pemungutan suara, tetapi juga tercermin dari bagaimana para kandidat dan pendukungnya merespons hasil tersebut.

Yang perlu dihindari adalah politik yang terus hidup setelah kotak suara ditutup: memperpanjang konflik, mempertajam perpecahan, atau membangun narasi seolah-olah kehendak pribadi harus selalu berhadapan dengan pilihan masyarakat.

Pertarungan politik memiliki batas. Persaudaraan masyarakat tidak seharusnya memiliki batas karena perbedaan pilihan.

Pada akhirnya, desa tidak membutuhkan calon yang hanya mampu memenangkan pertarungan.

Desa membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola perbedaan, menghormati legitimasi rakyat, menjaga kohesi sosial, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi politik pribadi.

Maka pesan sederhananya:

Petarung sejati tahu kapan harus maju, tahu kapan harus mengevaluasi diri, dan tahu kapan harus berkata: “Saya menerima pilihan rakyat dengan lapang dada.”

Karena dalam politik, tidak semua pertarungan harus dimenangkan untuk membuktikan bahwa kita seorang petarung. Terkadang, kemampuan untuk mundur dengan terhormat justru menjadi bukti bahwa kita memahami arti demokrasi.

IMG-20260721-WA0007