Berita

Mengenal Makna Sakral di Balik Prosesi Maulid Adat Bayan Lombok Utara

Sasamboinside.com, LOMBOKUTARA – Masyarakat Dusun Karang Bajo, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok utara sedang merayakan salah satu upacara adat terbesar yang menjadi salah satu identitas Kecamatan Bayan, yaitu Maulid Adat Bayan.

Upacara Maulid sendiri tidaklah jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi kekentalan nuansa ritual adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bayan menjadikannya sangat berbeda.

Persiapan maulid Adat Bayan cukup panjang dan unik. Bahkan jauh sebelum hari Maulid tiba, masyarakat Bayan, khususnya yang memiliki hajat khusus telah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut Hari kelahiran baginda Rasulullah SAW ini.

Secara lingkungan adat, rangkaian kegiatan inti baru dimulai sehari jelang hari Maulid yang telah ditentukan tiba.

Pada hari menjelang Hari Maulid tiba, berbagai prosesi kegiatan ritual adat yang unik dan menarik mulai dilakukan seperti; Prosesi Kayu Aiq, Sembeq, dan Menutuq.

Kayu Aiq adalah prosesi adat pengumpulan hasil bumi dari warga yang memiliki hajat untuk diserahkan kepada Maq Lokaq atau kepada Inen Gumi yang kemudian disimpan di dalam Kampu.

Kampu sendiri adalah komplek bangunan suci yang hanya boleh ditempati oleh seorang pemangku adat beserta keluarganya yang disebut Maq Lokaq.

Di dalam Kampu terdapat Berugak Suci, Rumah Adat, dan rumah tempat penyimpanan barang serta hasil bumi.

Kampu merupakan tempat yang sangat dihormati oleh masyarakat Adat Bayan, tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya. Bahkan saat upacara adat berlangsung, warga yang ingin mengantarkan seserahan hanya boleh masuk melalui gerbang tertentu.

Kampu juga dikelilingi oleh rumah-rumah adat yang ditempati oleh tokoh-tokoh adat yang bergelar Pembekel.

Saat prosesi Kayu Aiq, warga biasanya akan menuju Kampu melalui gerbang khusus untuk mengantarkan seserahan berupa hasil bumi, hasil ternak, dan sebagainya untuk diserahkan kepada Inen Meni. Kemudian mereka akan mendapatkan Sembeq dari Maq Lokaq.

Sembeq sendiri adalah sebuah bentuk pemberkatan yang dilakukan oleh seorang tokoh adat dengan mengoleskan ramuan obat dari daun sirih ke kening warga atau kepala dan juga meniupkan air yang sudah dimantrai kepada benda yang dikumpulkan beserta orang yang membawanya.

Setelah proses Sembeq selesai Inen Meni akan memimpin sejumlah wanita untuk berjalan beriring membawa hasil bumi keluar dari dalam Kampu menuju lokasi Menutuq.

Menutuq adalah proses penumbukan padi secara tradisional yang dilakukan serempak oleh para wanita tersebut di sebuah tempat terbuka menggunakan media berupa lesung panjang dari kayu yang disebut Rantok Beleq lalu kemudian ditumbuk menggunakan tongkat bambu.

Dalam proses ini para wanita yang boleh ikut Menutuq adalah mereka yang sedang dalam keadaan suci saja atau tidak sedang datang bulan.

Papuq Bajang selaku Pembekel Desa Adat Karang Bajo ketika di wawancarai media menjelaskan bahwa alasan mereka tidak mengizinkan wanita yang sedang datang bulan untuk mengikuti prosesi menutuq adalah untuk menjaga kesucian semua peralatan dan bahan bahan makanan lainnya yang dipersiapkan untuk Upacara Adat.

Papuq Bajang bukanlah nama asli, melainkan gelar kehormatan bagi tokoh adat tertentu di masyarakat Bayan. Semua tokoh adat tidak boleh dipanggil dengan nama aslinya oleh warga, karena dianggap tidak sopan dan melanggar adat. Jika ada yang melakukannya, mereka bisa dikenai sanksi adat.

Proses Menutuq biasanya diiringi dengan tabuhan gendang dan musik gamelan khas Suku Sasak Bayan yang menciptakan suasana semarak, namun tetap sakral.

Maulid Adat Bayan adalah sebuah tradisi unik yang menggabungkan unsur Islam dan adat lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat Bayan. Dengan berbagai prosesi ritual adat yang unik dan sakral, masyarakat Bayan tidak hanya menunjukkan kecintaan dan penghormatan mereka kepadan Baginda Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka juga menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur mereka.

Maulid Adat Bayan bukan hanya sekadar perayaan Maulid biasa, tetapi bagian dari identitas dan merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Bayan dan juga Pulau Lombok secara umum.

SaSaMbo Inside

Recent Posts

Konsisten Jalankan Praktik Keberlanjutan, WSBP Raih Penghargaan Pada Ajang The Best Corporate Transparency and Emission Reduction Awards 2026

PT Waskita Beton Precast Tbk (kode saham: WSBP) PT Waskita Beton Precast Tbk (kode saham:…

2 menit ago

Kelebihan Tarik Tunai Tanpa Kartu: Lebih Praktis di Era Digital

Tarik tunai tanpa kartu menjadi salah satu fitur yang semakin banyak digunakan karena menawarkan kemudahan,…

4 menit ago

KAI Bandara Layani 78.226 Penumpang Selama Libur May Day 2025, Ajak Masyarakat Tertib Saat Melintas Perlintasan

PT Railink mencatat total sebanyak 78.226 penumpang menggunakan layanan KAI Bandara selama periode libur May…

13 jam ago

Lintasarta Rayakan 38 Tahun Perjalanan, Hadirkan Komitmen Empowering Beyond untuk Indonesia

Memperingati 38 tahun perjalanan transformasinya, Lintasarta, menegaskan peran sebagai Beyond AI Factory di bawah naungan…

14 jam ago

SUCOFINDO Sertifikasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Dorong Standar Tata Kelola dan Infrastuktur Berkelanjutan

Upaya penguatan tata kelola dan standar keberlanjutan di sektor konstruksi nasional terus didorong di tengah…

16 jam ago

Perjalanan Mahasiswa BINUS University dalam Meraih Juara 3 Pilmapres LLDIKTI Wilayah III

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa BINUS University. Stanley Nathanael Wijaya, mahasiswa Computer Science dari…

16 jam ago