Berita

Dugaan Orang Ketiga Mencuat di Kasus Kematian Brigadir Esco

Sasamboinside.com – Dugaan kuat adanya orang ketiga mencuat dalam kasus kematian Brigadir Polisi Esco Paska Rely, anggota Intel Polsek Sekotong, Polres Lombok Barat. Dugaan itu ramai dibicarakan usai beredar di media sosial Facebook.
Akun Facebook bernama @BP menjadi yang pertama kali memposting isu tersebut. Dalam unggahannya dua hari lalu, akun itu menuliskan kalimat bernada provokatif.
“Cinta segitiga merenggut nyawa adalah judul yang pas,” tulis akun @BP.
Dari penelusuran sasamboinside.com, akun tersebut memang kerap membagikan informasi terkait perkembangan kasus Brigadir Esco.
Bahkan dalam postingan terbarunya, akun itu menyinggung soal rencana rilis resmi dari Polda NTB.
“Polda NTB akan merilis kasus pembunuhan Brigadir Esco pada hari senin tanggal 8 September 2025,” tulisnya.
Namun, di hari yang sama akun tersebut juga membuat unggahan lain dengan nada ancaman.
“Apabila senin berubah lagi, terpaksa kami akan turun bersama masa aksi. Takbir!!,” tulisnya lagi.
Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid dan Kasi Humas Polres Lombok Barat, Iptu Amirudin yang dikonfirmasi terkait hal tersebut belum memberikan keterangan hingga berita ini ditayangkan.
Sebelumnya, Brigadir Esco Paska Rely ditemukan tewas mengenaskan tidak jauh dari rumahnya di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, pada 24 Agustus lalu.
Mayat Brigadir Esco ditemukan oleh salah seorang warga. Jasadnya ditemukan dalam kondisi membusuk dengan wajah rusak, tergeletak dengan leher terikat tali di sebuah pohon.
Kasus dugaan pembunuhan terhadap Brigadir Esco kini telah resmi naik ke tingkat penyidikan.
Kuasa hukum keluarga korban, Dr. Lalu Anton Hariawan mengungkapkan bahwa perkara tersebut telah resmi naik ke tahap penyidikan.
Dikatakan, pihak keluarga telah menerima surat pemberitahuan dari penyidik yang diserahkan pada Kamis (4/9/2025).
Dengan naiknya kasus ini ke tahap penyidikan, kata Anton, hal itu menandakan adanya dugaan perbuatan melawan hukum serta bukti permulaan yang cukup.
“Kemarin kita sudah tanyakan progres perkembangan kasusnya ke penyidik, bahkan sudah bertemu Kapolres. Surat pemberitahuan naik ke tahap penyidikan juga sudah diberikan kepada keluarga. Itu artinya kasus ini sudah memiliki bukti permulaan,” jelas Anton, 5/9/25.
Anton memastikan akan terus mengawal proses hukum kasus tersebut. Ia optimistis bahwa kebenaran pada akhirnya akan terungkap.
“Sehebat apa pun larinya kebohongan, pemenangnya tetap kebenaran,” tegasnya.
Disadur dari media SUARANTB.com, Ayah korban, Syamsul Herawadi, mengungkap fakta mengejutkan terkait hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kedua.
Menurutnya, ditemukan bercak darah di sejumlah titik di rumah korban, yang memunculkan dugaan kuat bahwa anaknya dieksekusi di kamar, bukan bunuh diri.
“Awalnya saya tahu cuma barang bukti dari tubuh korban, seperti celana, jaket, jam tangan, HP, sama kunci motor. Tapi ketika dibacakan olah TKP kedua, saya kaget. Ada bercak darah di handuk anak saya, di belakang pintu kamar, dan di beberapa ruangan lain,” ungkap Syamsul saat memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (4/9/2025).
Syamsul menegaskan sejak awal dirinya tidak percaya anaknya bunuh diri.
“Orang bodoh pun tahu, ini bukan bunuh diri. Ada luka dan bekas luka di tubuh anak saya yang tidak masuk akal kalau dikatakan bunuh diri,” tegasnya.
Ia juga menceritakan kondisi mengenaskan jasad Brigadir Esco saat pertama kali melihat di ruang autopsi.
“Mukanya sudah tidak ada, tinggal tengkorak. Saya tidak kuat, kepala pusing, sesak, sampai hampir pingsan,” kenangnya dengan suara bergetar.
Syamsul menyebut pada olah TKP kedua, polisi juga menurunkan anjing pelacak. Hasilnya, hewan tersebut terus mengarah ke kamar Brigadir Esco, lokasi di mana diduga kuat peristiwa eksekusi terjadi.
Selain itu, keluarga juga menyoroti kejanggalan komunikasi terakhir korban. Esco sempat mengabarkan sakit kepada adiknya pada Senin sebelum dinyatakan hilang kontak.
Namun, keesokan harinya ia tetap memaksa masuk dinas. Sejak Selasa malam, korban tidak bisa lagi dihubungi hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia pada Minggu pagi, hanya belasan meter dari rumahnya.
Syamsul menegaskan pihak keluarga menuntut aparat penegak hukum untuk segera mengungkap kasus ini secara transparan.
“Kami minta pelaku ditindak seadil-adilnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” pintanya.
SaSaMbo Inside

Recent Posts

Kelebihan Tarik Tunai Tanpa Kartu: Lebih Praktis di Era Digital

Tarik tunai tanpa kartu menjadi salah satu fitur yang semakin banyak digunakan karena menawarkan kemudahan,…

2 menit ago

KAI Bandara Layani 78.226 Penumpang Selama Libur May Day 2025, Ajak Masyarakat Tertib Saat Melintas Perlintasan

PT Railink mencatat total sebanyak 78.226 penumpang menggunakan layanan KAI Bandara selama periode libur May…

13 jam ago

Lintasarta Rayakan 38 Tahun Perjalanan, Hadirkan Komitmen Empowering Beyond untuk Indonesia

Memperingati 38 tahun perjalanan transformasinya, Lintasarta, menegaskan peran sebagai Beyond AI Factory di bawah naungan…

14 jam ago

SUCOFINDO Sertifikasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Dorong Standar Tata Kelola dan Infrastuktur Berkelanjutan

Upaya penguatan tata kelola dan standar keberlanjutan di sektor konstruksi nasional terus didorong di tengah…

16 jam ago

Perjalanan Mahasiswa BINUS University dalam Meraih Juara 3 Pilmapres LLDIKTI Wilayah III

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa BINUS University. Stanley Nathanael Wijaya, mahasiswa Computer Science dari…

16 jam ago

Emas Berpotensi Melonjak ke 4.740, Ini Pemicunya

Harga emas dunia pada perdagangan hari Rabu (6/5) diperkirakan memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan,…

16 jam ago