Berita

Bang Zul dan Industrialisasi, Mengubah Nilai Sekaligus Pola Pikir

MATARAM sasamboinside.com – Gubernur NTB periode 2018-2023 Zulkieflimansyah atau Bang Zul meluncurkan program industrialisasi semasa menjabat.

Program tersebut menjadi salah satu unggulan di kepemimpinan Bang Zul, selain beasiswa luar negeri dan beberapa program lainnya.

Namun saat program tersebut diluncurkan, tidak sedikit orang yang pesimis dengan program tersebut.

Di benarkan mereka, industrialisasi identik dengan pabrik-pabrik besar, asap polusi, modal yang besar yang mustahil dapat dilakukan UMKM di NTB.

Namun, industrialisasi ala Bang Zul tidak seberat yang dipikirkan para kritikus. Doktor bidang ekonomi ini mengajarkan masyarakat NTB bahwa industrialisasi tidak hanya bicara soal pabrik-parik raksasa, kepulan asap polusi atau yang berhubungan dengan bisnis para crazy richt di Indonesia.

“Pemaknaan industrialisasi seperti di atas memang wajar. Karena itu memang pengertian industrialisasi secara tradisional yang disematkan beratus-ratus tahun lalu ketika terjadinya revolusi industri di Eropa,” kata Bang Zul.

Industrialisasi ala Bang Zul memiliki pendekatan yang lebih sederhana serta mampu diikuti para pelaku UMKM di NTB.

“Industrialisasi dalam konteks ini adalah sebuah proses besar untuk berani mengolah dan mengubah nilai sebuah produk mentah atau tradisional menjadi produk-produk atau komoditas yang punya nilai tambah lebih tinggi. Dalam ilmu ekonomi proses ini disebut proses pendalaman struktur atau structural deepening,” jelasnya.

Sederhananya, industrialisasi ala Bang Zul ini bicara bagaimana mengolah bahan mentah di NTB menjadi bahan jadi, sehingga saat dipasarkan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dari bahan mentah.

NTB tidak harus menjual gabah ke luar, tapi diolah untuk menjadi beras lalu dijual. Begitu juga dengan produk lain, sehingga nilai ekonominya lebih meningkat.

“Jadi mesti ada keberanian untuk tidak lagi menjual gabah tapi kita kemudian membeli beras. Kita menjual kain kemudian membeli baju. Menjual ikan mentah tapi membeli abon dan seterusnya,” ujarnya.

Sehingga, masyarakat NTB tidak lagi harus menjual produk mentah dengan harga murah dan justru membeli produk jadi dengan harga jauh lebih mahal.

“Kita miskin dan tertinggal karena menjual komoditas mentah kita lebih murah untuk kemudian membeli komoditas jadi yang nilai tambahnya lebih tinggi dengan harga yang lebih mahal,” katanya.

“Daerah kita tetap akan miskin kalau terus-terusan menjual jagung dan terus-terusan pula membeli pakan ternak dengan harga lebih mahal yang sebenarnya diolah dari jagung yang berasal dari daerah kita sendiri sebagai bahan bakunya,” ujarnya.

Kini sejak industrialisasi digaungkan, banyak sekali masyarakat yang berani mencoba mengolah bahan mentah mereka menjadi bahan jadi.

Tidak hanya Teh Kelor Kidom yang sudah menemui pasar internasional, ada banyak sekali bahan mentah yang diolah masyarakat menjadi bahan jadi, seperti Satu Pusuk Kemasan, Terasi Empang, garam, ares, Ayam Taliwang, Ayam Rarang, Sate Rembiga dan masih banyak sekali makanan dengan konsep frozen food di NTB.

“Walaupun kelihatannya sederhana, proses industrialisasi sederhana ini sama sekali tidak mudah. Butuh pembelajaran panjang, coba-coba dan sedikit kenekatan. Prosesnya panjang dan berliku. Kita di NTB banyak loh yang begini-begini ini sekarang,” ujar Bang Zul.

Sehingga, jika masih ada yang menganggap industrialisasi gagal itu mungkin karena kurang berkunjung ke UMKM-UMKM yang ada di kabupaten dan kota di NTB.

“Geliat industrialisasi sederhana seperti ini sangat terasa. Sektor kuliner adalah contoh yg paling kasat mata. Produk-produk makanan yg di kemas semakin banyak bermunculan dan beredar di pasaran lokal bahkan ke luar daerah-daerah kita. Ayam Taliwang, Ayam Rarang dan Sate Rembige adalah contoh-contoh nyata itu. Apa proses ini sederhana? Sama sekali tidak,” katanya.

Namun kata Bang Zul, bukan berarti dengan hadirnya industrialisasi kecil menghilangkan industrialisasi besar konvensional.

“No! Indusri besar tetap penting. Kehadiran industri-industri besar ini relevan dengan pengertian Industrialisasi konvensional yang melihat industrialisasi sebagai proses peningkatan proporsi sektor industri dalam ekonomi kita,” ujarnya.

SaSaMbo Inside

Recent Posts

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo Bakal Meriahkan Rakernas KAI di Lombok

Sasamboinside.com - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kongres Advokat Indonesia (KAI) akan digelar di Mataram, Nusa…

13 jam ago

Belum Bayar Sewa 9 Bulan, Dapur MBG di Desa Puyung Disegel

Sasamboinside.com - Operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten…

2 hari ago

Bank NTB Syariah – Pemprov NTB Rampungkan Skema Pinjaman Lunak KUR PMI dan Magang, Solusi Transparan Guna Putus Rantai Rekrutmen Ilegal

Sasamboinside.com – PT Bank NTB Syariah bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) serta…

2 hari ago

Lombok Tengah Raih WTP ke-14 Kali Berturut-turut dari BPK RI

Sasamboinside.com - Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Opini Wajar Tanpa…

3 hari ago

Wakili NTB, Maesarah Ukir Prestasi di MTQ Internasional Pemuda Masjid Dunia 2026

Sasamboinside.com — Qoriah asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Maesarah, menorehkan prestasi membanggakan di tingkat…

3 hari ago

Sat Pol PP Loteng Sita Ribuan Batang Rokok Ilegal dan Tembakau Irisan Siap Jual

Sasamboinside.com - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lombok Tengah menggelar operasi gabungan pemberantasan…

3 hari ago