Proyek Revitalisasi SLBN 2 Lombok Tengah Disorot, Sekolah Pastikan Material Sesuai Standar

A-AA+A++

Sasamboinside.com – Proyek revitalisasi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Lombok Tengah di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, menjadi sorotan LSM LI Tipikor NTB.

Proyek yang menelan anggaran Rp 3,37 miliar dari APBN Tahun Anggaran 2026 itu diduga menggunakan spesifikasi material yang tidak sesuai standar.

Ketua LSM LI Tipikor NTB, M. Pahri, menyoroti sejumlah komponen bangunan, terutama rangka baja, kusen pintu dan jendela, serta material atap yang digunakan dalam pengerjaan proyek tersebut.

Dugaan itu menjadi perhatian karena revitalisasi sekolah tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga kualitas sarana pendidikan yang akan digunakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

Menanggapi sorotan tersebut, Kepala SLBN 2 Lombok Tengah, Deden Muhamad Ridwan, menegaskan bahwa pengajuan revitalisasi telah melalui prosedur yang berlaku.

Menurut Deden, usulan pembangunan diajukan kepada Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi NTB.

Setelah itu, dilakukan survei dan verifikasi ulang terhadap kondisi sekolah di lapangan.

“Pengajuan revitalisasi sudah sesuai prosedur. Dinas melakukan survei dan verifikasi ulang sesuai dengan kenyataan di lapangan, kemudian disesuaikan dengan RAB,” kata Deden.

Ia menjelaskan, revitalisasi mencakup sejumlah fasilitas sekolah, mulai dari pagar keliling, kantin, selasar, toilet baru, hingga renovasi ruang guru, ruang administrasi, ruang kepala sekolah, dan ruang tata usaha.

Pengerjaan juga menyasar 8 ruang kelas, perpustakaan, serta asrama putra dan putri.

Deden mengatakan, proyek tersebut dikerjakan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat.

Dikatakannya, pihak sekolah merangkul tukang-tukang lokal dan mengupayakan pembelian material dari toko bangunan di sekitar wilayah tersebut.

“Pengerjaan secara swakelola melibatkan masyarakat setempat. Kami merangkul tukang-tukang di sini, kemudian material juga diupayakan dibeli di sini,” ujarnya.

Terkait dugaan penggunaan material yang tidak sesuai standar, Deden memastikan bahwa material yang digunakan telah mengacu pada spesifikasi teknis.

Ia menyebut, rangka baja ringan yang digunakan memiliki ketebalan 0,75 x 0,75, sedangkan material atap menggunakan ketebalan 0,30 dan 0,35.

Menurut dia, pihak sekolah berupaya memberikan kualitas terbaik karena bangunan tersebut akan digunakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kalau dari spesifikasi, semuanya kami berikan yang terbaik untuk anak-anak yang luar biasa. Karena anak-anak di sini adalah anak-anak istimewa,” katanya.

Deden juga menyatakan pihak sekolah terbuka terhadap pemeriksaan dari berbagai lembaga terkait.

Ia memastikan tidak keberatan apabila proyek revitalisasi tersebut diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dinas terkait, maupun pemerintah pusat.

“Kami siap diaudit oleh BPK, dinas-dinas terkait, maupun dari pusat,” tegasnya.

FB_IMG_1791945637181