Example floating
Example floating

Senator Arya Wedakarna Terancam Dilaporkan ke Badan Kehormatan DPD RI

A-AA+A++

Sasamboinside.com — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH (Tuan Guru Haji) Ibnu Kholil, angkat bicara terkait dugaan intimidasi terhadap Hilda, warga asal Lombok yang merantau di Bali.

Sorotan itu muncul setelah beredar luas video mediasi antara Hilda dengan seorang tukang jahit yang sebelumnya diduga melontarkan pernyataan bernuansa rasis terhadap Hilda.

IMG-20260705-WA0002

Dalam video tersebut, sikap anggota DPD RI dapil Bali, Arya Wedakarna, dinilai TGH Ibnu Kholil terkesan memojokkan pihak korban.

Tak tinggal diam, TGH Ibnu Kholil menyatakan dirinya bersama tiga senator NTB lainnya sepakat membawa persoalan tersebut ke Badan Kehormatan DPD RI.

“Saya Haji Ibnu Kholil, anggota DPD RI dapil NTB, telah menerima berita terkait Saudari Hilda asal Lombok sebagai perantau di Bali yang menjadi korban rasisme. Dan kami sangat menyayangkan sikap dari Saudara Arya Wedakarna, anggota DPD RI dapil Bali, yang terkesan memojokkan Saudari Hilda asal Lombok,” ujar TGH Ibnu Kholil.

Menurut TGH Ibnu Kholil, langkah melaporkan Arya Wedakarna ke Badan Kehormatan DPD RI ditempuh sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus upaya memastikan persoalan yang melibatkan sesama anggota DPD RI dapat ditangani melalui mekanisme kelembagaan.

Ia menyebut laporan akan dilakukan bersama Hj. Evie Apita Maya, Tuan Guru Rifki Farabi, dan Mirah Midadan.

“Karena itu kami anggota DPD RI sepakat bersama Hj. Evie Apita Maya, kemudian Saudara Tuan Guru Rifki Farabi dan juga Saudari Mirah Midadan untuk melaporkan Arya Wedakarna ke Badan Kehormatan DPD RI. Semoga usaha ini bisa mendapatkan keadilan,” tegasnya.

Sebelumnya, potongan video proses mediasi antara Hilda dan tukang jahit tersebut menyebar luas di media sosial dan menuai beragam reaksi publik.

Persoalan tersebut bermula dari dugaan penghinaan bernuansa suku terhadap Hilda.

Kasus itu kemudian berkembang dan mendapat perhatian luas setelah video terkait persoalan tersebut beredar di media sosial.

Dalam proses mediasi yang terekam dalam video, sejumlah warganet menilai Hilda justru mendapatkan tekanan ketika menyampaikan persoalannya.

Sorotan juga mengarah pada dugaan ancaman akan dilaporkannya Hilda karena menyebarkan video terkait kejadian tersebut.

Kondisi inilah yang kemudian membuat sejumlah pihak meminta agar persoalan tersebut tidak bergeser dari substansi awal, yakni dugaan penghinaan terhadap korban.

Sorotan terhadap kasus tersebut sebelumnya juga datang dari sesama anggota DPD RI dapil Bali, Ni Luh Djelantik.

Melalui akun Instagram pribadinya, Ni Luh Djelantik menegaskan persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai nominal uang.

Ia menilai inti persoalan adalah dugaan tindakan penghinaan dan serangan terhadap identitas suku yang dialami Hilda.

“Ini bukan masalah seribu rupiah, ini masalah ada di penjahit yang sudah mencaci maki, menyerang suku, mengancam pelanggan dengan kata-kata kasar. Hilda hanya meminta haknya, mengapa urusan jadi panjang begini?” tulis Ni Luh Djelantik dalam unggahannya.

Ia juga meminta pihak yang dianggap melakukan penghinaan untuk meminta maaf secara tulus kepada Hilda dan suku yang disebut dalam peristiwa tersebut.

“Sudahi play victim, minta maaf dengan tulus baik kepada adik Hilda dan suku Jawa yang anda hina. Akibat kelakuan anda, masyarakat Bali menerima getahnya,” tulisnya.

Ni Luh juga memberikan dukungan kepada Hilda dan memastikan dirinya akan ikut berkomunikasi dengan pihak kepolisian terkait persoalan tersebut.

“Kepada adik Hilda, jangan kuatir. Ibu Niluh akan bicara dengan pihak kepolisian Republik Indonesia. Tidak ada satu orang pun dan siapapun yang berhak mengintimidasi Hilda,” tulisnya.

Ia bahkan meminta Hilda menyimpan nomor kontaknya untuk berkomunikasi lebih lanjut.

“Nomor hp Ibu 087802345888, simpan dan WA ibu nak. NILUH DJELANTIK Senator Republik Indonesia,” sambungnya.

IMG-20260705-WA0003