Sasamboinside.com – Ketidakpuasan mendalam dari cabang olahraga (cabor) anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lombok Tengah terhadap kepemimpinan Ketua Umum (Ketum) M. Samsul Qomar (MSQ) akhirnya terungkap.
Sukarman Kana, Sekretaris Federasi Aquatik Lombok Tengah, menjadi salah satu yang angkat bicara, membongkar kekecewaan yang telah lama terpendam sejak MSQ menjabat pada periode 2021-2025.
Menurut Sukarman, selama kepemimpinan MSQ, KONI Lombok Tengah seolah menelantarkan cabor-cabor di bawah komandonya.
Ia menyoroti tidak adanya rapat kerja dan pembinaan yang mestinya menjadi agenda rutin untuk mendukung perkembangan olahraga di daerah tersebut.
“Selama kami menjadi anggota KONI, tidak pernah ada rapat kerja, tidak pernah ada pertemuan-pertemuan, tidak pernah ada pembinaan. Apa yang harus saya pertahankan? Kami sudah memberikan mereka waktu empat tahun,” ungkap Sukarman dengan nada kecewa.
Kekecewaan ini memuncak hingga sejumlah cabor menyatakan mosi tidak percaya terhadap MSQ.
“Kami sudah membuat mosi tidak percaya terhadap Ketum KONI Loteng, Qomar. Kekecewaan kami karena tidak pernah ada diskusi dengan mereka. Mereka tidak memandang kami sebagai anggota cabor,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa komunikasi yang buruk antara pengurus KONI dan cabor menjadi salah satu pemicu utama ketidakpuasan tersebut.
Sukarman mengungkapkan bahwa sejak MSQ terpilih pada 2021, beberapa cabor sudah mulai menunjukkan gelagat ketidakpuasan.
Namun, ia sempat menenangkan rekan-rekannya dengan meminta untuk memberikan kesempatan kepada MSQ hingga akhir masa jabatannya di 2025.
“Begitu Samsul Qomar terpilih, beberapa cabor sudah melakukan gerakan. Tapi saya bilang, berikan kesempatan, kita tunggu sampai 2025,” ujarnya.
Namun, kesabaran itu tampaknya telah habis. Awal tahun 2024, para cabor mulai menyusun rencana untuk mencari sosok baru yang dianggap lebih mampu memimpin KONI Lombok Tengah.
Dalam diskusi bersama cabor-cabor tersebut, nama Lalu Firman Wijaya muncul sebagai kandidat potensial.
“Kami sudah menyusun rencana sejak awal 2024. Nama Pak Firman Wijaya muncul, lalu kami mencoba menghubungi beliau. Setelah beberapa kali konsolidasi, pilihan kami jatuh pada Pak Firman,” jelas Sukarman.
Proses pemilihan Lalu Firman Wijaya sebagai kandidat tidak berjalan mulus. Sukarman mengakui bahwa Firman Wijaya sempat ragu karena posisinya sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) yang notabene anak buah bupati.
“Saya sampaikan ke Pak Firman, ‘Sekiranya cabor-cabor menginginkan Bapak sebagai Ketum KONI Loteng, apakah Bapak bersedia?’ Beliau menjawab, ‘Nanti,’ karena alasan harus izin atasannya. Tapi saya bilang, ‘Bapak bukan maju sebagai Sekda, tapi sebagai Ketua Cabor IMI,’” ungkap Sukarman, merujuk pada jabatan Firman di cabang olahraga Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Sukarman menegaskan bahwa inisiatif ini murni berasal dari keinginan bersama para cabor, bukan dorongan pribadi atau pihak tertentu.
“Saya inisiatornya, tapi ini keinginan bersama cabor-cabor. Tidak pernah terpikirkan Pak Firman sebelumnya, dan beliau juga tidak pernah menghubungi saya lebih dulu,” tegasnya.
Bahkan, saran untuk mengusung Firman Wijaya juga datang dari Ketua Cabor Persani, yang turut mendukung langkah tersebut.
Dengan konsolidasi yang telah dilakukan, para cabor tampak mantap mengusung Lalu Firman Wijaya sebagai calon Ketum KONI Lombok Tengah periode berikutnya.
Sehingga, pada Musorkab KONI kabupaten Lombok Tengah yang berlangsung di Illira Lite Hotel pada 20 Maret 2025 lalu menghantarkan Lalu Firman Wijaya terpilih secara aklamasi.
Sementara itu, Ketua Umum Koni Lombok Tengah periode 2021-2025, M Samsul Qomar menyebutkan bahwa kekecewaan cabor tersebut ditengarai karena kekalahan jagoannya saat musorkab tahun 2021 lalu.
“Mereka tidak puas karena musorkab 2021 kalah, dan baperan sampai sekarang, kita tidak pernah menutup diri,” ungkap Qomar, Kamis, 27 Maret 2025.
Menurutnya, olahraga mengajarkan sportivitas, bahwa kalah dan menang adalah hal biasa, bukan malah menciptakan jarak antar-pihak yang seharusnya bersinergi.
Ia pun mempertanyakan dasar mosi tidak percaya yang digaungkan.
“Apa dasar mereka mosi tidak percaya? Dana pembinaan di kelola Dinas pemuda olahraga, dana Poprov 2023 langsung dari dinda ke KONI Provinsi dan ke cabor ga ada di titip di KONI,” ujar MSQ.
Ketua KONI Lombok tengah periode 2021-2025 ini juga menyoroti inkonsistensi sikap sebagian pengurus cabor.
Ia mengatakan, hingga awal Maret 2025, beberapa cabor masih meminta rekomendasi dari dirinya untuk keabsahan status keanggotaan di KONI.
“Sampai awal maret Cabor masih meminta rekomendasi ketua KONI untuk keabsahan sebagai anggota KONI, kok sekarang mengaku mosi tidak percaya,” ungkap dia.
Ia juga menyinggung pelantikan kepengurusan Aquatik Indonesia, di mana Sukarman yang menjabat sekretaris disebutnya tidak memulai acara sebelum kehadirannya.
“Malah pelantikan aquatik yang sukarman sekretarisnya ndak mulai sebelum saya datang, sekarang pura pura mengeluh dan sebagainya,” sesalnya.
Ia mengakui bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna dan kekurangan pasti ada.
Namun, ia menekankan bahwa dengan dana pembinaan yang tergolong paling rendah se-Nusa Tenggara Barat (NTB), KONI Lombok Tengah tetap mampu mengukir prestasi.
“Sebelum saya menjadi ketua KONI, tidak pernah sekalipun ada rapat kerja. Baru di periode kami, setiap tahun ada raker. Dan kayaknya Sukarman tidak pernah hadir, karena masih sakit hati jagoannya kalah waktu itu,” ungkapnya.
MSQ menegaskan pihaknya tidak ingin ambil pusing dengan suara sumbang dari oknum yang merasa hebat namun hanya mencari-cari kesalahan.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak memelihara kebencian dan kedengkian yang justru meracuni semangat perjuangan untuk mengharumkan nama Lombok Tengah.
“Fokus kami Porprov 2026 kita di peringkat 3 besar dan meraih 45 medali emas,” tutupnya.