Sasamboinside.com — Anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna, akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya warga Lombok, buntut viralnya dugaan intimidasi terhadap perempuan asal Lombok yang bekerja di Bali saat proses mediasi dengan seorang ibu penjahit.
Permintaan maaf itu disampaikan Arya melalui unggahan di akun Facebook miliknya baru-baru ini.
Dalam unggahan tersebut, Arya mengungkapkan dirinya telah bertemu dan berdiskusi dengan tiga senator asal NTB di DPD RI, yakni Mirah Midadan, Evi Apita Maya dan Rifki Farabi.
Pertemuan itu disebut dilakukan untuk melakukan tabayun sekaligus membahas polemik yang mencuat setelah video proses mediasi antara perempuan asal Lombok dengan ibu penjahit di Bali viral di media sosial.
“Saya senator Arya Wedakarna pada hari ini di Gedung DPD RI bertemu dengan tiga senator dari Nusa Tenggara Barat. Ada Ibu Mirah, ada Ibu Evi dan ada juga Bapak Farabi. Beliau adalah tiga orang senator. Pada hari ini kami bersilaturahmi, saya datang ke kantor beliau dan kita sudah berdiskusi terkait dengan masalah yang sekarang ini viral antara seorang ibu Bali yang penjahit dengan seorang putri gadis Lombok yang sedang bekerja di bali ” ujar Arya dalam video yang diunggahnya.
Arya menjelaskan, persoalan antara ibu penjahit asal Bali dengan perempuan asal Lombok tersebut sebenarnya telah diselesaikan melalui proses mediasi di Polsek Abiansemal, Badung.
Menurutnya, proses mediasi tersebut turut difasilitasi oleh DPD RI bersama Kapolsek Abiansemal dan tim penyidik.
Ia menyebut peristiwa tersebut terjadi pada 20 Juli 2026 dan telah diselesaikan melalui musyawarah.
“Yang pertama, dapat saya sampaikan terkait dengan masalah mediasi bahwa masalah itu sudah diselesaikan di kantor Polsek Abiansemal, Badung bersama Bapak Kapolsek, bersama tim penyidik dan di fasilitasi DPD RI. Jadi, permasalahannya terjadi 20 Juli 2026 dan sudah selesai,” kata Arya.
Arya juga menegaskan bahwa kedua belah pihak telah sepakat berdamai dan tidak melanjutkan persoalan tersebut ke jalur hukum.
“Kedua, kedua belah pihak, Ibu dan anak dari Lombok ini sudah bersepakat damai tidak ada saling menggugat hukum. Jadi, sudah diselesaikan dengan musyawarah mufakat,” ujarnya.
Namun, polemik kembali mencuat setelah potongan video proses mediasi beredar luas di media sosial.
Dalam video yang viral, muncul dugaan adanya intimidasi terhadap perempuan asal Lombok tersebut.
Arya kemudian memberikan klarifikasi mengenai perannya sebagai pemimpin dalam proses mediasi.
Ia menegaskan tidak pernah memiliki maksud untuk melakukan intimidasi terhadap pihak perempuan maupun masyarakat Lombok.
“Yang nomor tiga, saya selaku pemimpin waktu mediasi dengan ini menyampaikan bahwa banyak video yang beredar itu potongan-potongan. Tetapi, yang pasti saya sampaikan ke beliau-beliau (Mirah, Evi, Farabi) sebagai wakil masyarakat NTB tidak ada maksud sedikitpun untuk intimidasi,” tegasnya.
Meski demikian, Arya menyampaikan permintaan maaf apabila sikap atau perilakunya saat memimpin mediasi dianggap menyinggung, mengecewakan, atau membuat masyarakat Lombok merasa keberatan.
“Dan yang nomor empat, tentu kalau misalkan ada hal-hal yang dianggap kurang, khususnya kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang ada di Lombok, yang mungkin itu juga di Jawa, di Lombok yang mungkin merasa keberatan atau mungkin merasa kecewa dengan perilaku Ibu penjahit atau kami sebagai pemimpin mediasi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan semoga yang pasti kedamaian dari kedua belah pihak, dari Ibu Bali dan gadis Lombok ini sudah tercapai. Dan itu adalah kejadian 20 Juli atau yang sudah hampir sebulan yang lalu,” jelasnya.
Arya juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan antara masyarakat Bali dan Lombok.
Ia menyebut pertemuannya dengan tiga senator NTB merupakan bagian dari upaya tabayun dan memperkuat komunikasi agar polemik tersebut tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
“Oke, itu informasi dari kami. Dan kami hari ini bertemu tabayun untuk silaturahmi, dan mudah-mudahan, dan beliau-beliau sudah banyak memberikan masukan kepada kami, memberikan nasihat bagaimana dan tetap persaudaraan Bali dan Lombok harus tetap kita utamakan untuk kepentingan bangsa,” pungkasnya.
Sasamboinside.com — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat…
Sasamboinside.com — Organisasi kemasyarakatan Laskar Sasak melontarkan kecaman keras terhadap dugaan intimidasi yang terjadi dalam…
Sasamboinside.com - Sebanyak 217 warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Praya, Lombok Tengah…
Sasamboinside.com - Kejaksaan Agung bersama sejumlah instansi terkait memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme terhadap…
Sasamboinside.com - Aksi demonstrasi puluhan warga Rowok dan Mawun di Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan…
Sasamboinside.com — Unit Reaksi Cepat Puma Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda NTB berhasil membongkar jaringan…