Sasamboinside.com – Air sungai meluap akibat hujan berintensitas tinggi kembali melumpuhkan akses utama warga Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (27/12/2025).
Jembatan penghubung antardusun terendam banjir hingga setinggi betis orang dewasa, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tak bisa melintas.
Pantauan di lokasi menunjukkan arus air sungai yang deras meluap ke badan jembatan.
Warga terpaksa menghentikan aktivitas karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung ke sejumlah dusun dan fasilitas umum.
Tak hanya jembatan, ruas jalan sepanjang 3,5 kilometer yang terhubung dengan jembatan itu juga rusak parah, berlubang, licin, dan becek sehingga sama sekali tak bisa dilewati.
Ironisnya, kondisi ini bukan kejadian baru. Jalan tersebut disebut telah dibangun sejak era 1980-an dan hingga kini tak pernah tersentuh perbaikan serius.
“Jalan ini dibuat sejak tahun delapan puluhan, hingga saat ini tidak pernah ada perbaikan atau renovasi, sehingga setiap tahun rusak dan banjir,” kata warga setempat, HL Saharudin, dengan nada geram.
Menurut Saharudin, jalan tersebut merupakan akses vital masyarakat dari berbagai desa dan dusun, terutama bagi anak-anak sekolah dan kegiatan sosial-keagamaan.
Di sepanjang jalur itu terdapat Madrasah Ibtidaiyah (MI), SD, MTs, hingga lembaga sosial Majelis Taklim yang setiap tahun harus berjibaku dengan banjir dan jalan rusak.
“Pemerintah seakan tidak peduli dan tidak mau tahu penderitaan kami masyarakat di bawah. Setiap tahun kami hanya disuguhi janji,” keluhnya.
Kondisi memprihatinkan ini juga dibenarkan Kepala Dusun setempat, Lalu Arafat.
Ia menyebut kerusakan parah pada jalan dan jembatan disebabkan tidak adanya perbaikan sejak pertama kali dibangun puluhan tahun silam oleh Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara (BWSNT).
“Kalau sudah rusak parah, kami warga gotong royong. Patungan uang sendiri untuk beli tanah urug,” ujar Arafat.
Ia mengungkapkan, laporan dan pengajuan perbaikan sudah berkali-kali disampaikan ke Pemerintah Daerah, BWSNT, hingga DPRD.
Namun hingga kini, tak satu pun yang benar-benar ditindaklanjuti.
“Kami sering laporkan dan ajukan perbaikan jalan ke pihak Pemda, BWSNT bahkan ke DPR namun belum ditanggapi sama sekali,” tegasnya.
Melalui media massa, Arafat berharap pemerintah daerah maupun legislatif berhenti menutup mata dan segera merealisasikan perbaikan jalan sepanjang 3,5 kilometer tersebut.
Jalan itu merupakan satu-satunya akses bagi delapan dusun, yakni Dusun Penabu, Pilan, Sadang Lauk, Sadang Daye, Bombas Timur, Bombas Barat, Pesusuk, dan Mentorok.
“Kalau jalan ini lumpuh, semua lumpuh. Ekonomi, pendidikan, aktivitas sosial ikut mati,” katanya.
Selain itu, kata dia, jalan tersebut juga berfungsi sebagai jalur alternatif menuju Desa Banyu Urip, Desa Pengembur, dan Desa Kerame Jati di Kecamatan Pujut karena posisinya yang berdampingan.