Sasamboinside.com – Dua pembalap kebanggaan Indonesia, Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, kembali tampil di hadapan publik Tanah Air saat Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 digelar di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober 2026.
Kiprah Mario di kelas Moto2™ dan Veda di kelas Moto3™ menjadi bagian dari perjalanan panjang keduanya sejak masih berusia dini.
Sebelum tampil di panggung balap dunia, keduanya telah melewati proses panjang yang diwarnai latihan sejak masa sekolah, kompetisi, pengorbanan waktu bersama keluarga, hingga menghadapi cedera dan berbagai tantangan dalam perjalanan karier.
Perjalanan keduanya bukan sekadar tentang kecepatan di lintasan, tetapi juga tentang keberanian untuk terus melangkah di tengah keterbatasan dan tantangan.
Di balik helm dan seragam balap, ada mimpi yang diperjuangkan sejak kecil, dukungan keluarga yang tak pernah putus, serta tekad untuk membawa nama Indonesia semakin dikenal di dunia.
Semangat inilah yang menjadikan Mario dan Veda bagian dari Indonesian Heroes, sosok-sosok yang menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya.
Kecintaan Mario terhadap dunia balap telah tumbuh sejak kecil. Rutinitasnya sepulang sekolah berbeda dari kebanyakan anak seusianya.
Saat teman-temannya pulang menggunakan angkutan umum, Mario justru berlari sebagai bagian dari latihan fisik yang telah disiapkan sang ayah.
“Dari kelas satu sampai kelas enam SD, sering latihan. Setiap kali dijemput sama ayah, sudah disiapkan baju lari. Jadi pulang sekolah, yang lain naik angkot, saya lari,” ujar Mario.
Baginya, motor merupakan sesuatu yang sangat berharga.
Namun, orang tuanya tetap memberikan batasan dalam berkendara. Mario tidak diperbolehkan mengendarai motor di jalan raya, bahkan ketika jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah.
“Kalau di jalan raya, saya pernah dimarahi. Sampai sudah punya SIM pun tidak pernah diizinkan naik motor di jalan raya. Bahkan jaraknya hanya 200 meter ke Indomaret, susah diizinkan naik motor. Tapi kalau di sirkuit, bebas,” katanya.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Mario ke Kejuaraan Dunia Moto2™.
Meski telah menjadi pembalap profesional, ia mengatakan tetap memandang balap sebagai sesuatu yang disukai dan dinikmati.
“Sampai sekarang Mario masih merasakan balapan itu hobi, tapi lebih ditekuni saja. Kalau kita menganggap balapan sebagai pekerjaan, kan menjadi beban. Jadi mungkin dari beban itu kita tidak bisa perform. Sampai sekarang masih Mario hitung hobi,” ujar Mario.
Sementara itu, perjalanan Veda Ega Pratama dimulai dari dunia motocross.
Pembalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut masih mengingat motor pertama yang diberikan oleh ayahnya sebagai salah satu kenangan masa kecil yang paling berkesan.
Sejak usia sekitar tujuh tahun, Veda telah mengikuti berbagai kejuaraan nasional motocross.
Setelah itu, ia beralih ke balap nasional road race pada 2018 dan mulai berkompetisi di tingkat Asia pada 2021.
Rutinitas latihan juga telah menjadi bagian dari kehidupan Veda sejak sekolah.
Sepulang sekolah, ia kerap langsung berangkat ke Yogyakarta untuk berlatih motocross.
Ketika beralih ke road race, latihan tetap dilakukan beberapa kali dalam sepekan.
“Orang tua saya semuanya mendukung,” ujar Veda. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Veda hingga akhirnya tampil di Kejuaraan Dunia Moto3™ dan menjadi salah satu talenta muda Indonesia yang berkompetisi di level internasional.
Menghadapi Cedera dan Keraguan
Perjalanan menuju panggung balap dunia tidak lepas dari tantangan.
Mario mengakui cedera yang berulang menjadi salah satu fase paling berat dalam kariernya.
“Setiap tahun hampir cedera,” kata Mario.
Dalam situasi tersebut, ia mengaku pernah mempertanyakan kembali peluangnya untuk mencapai target di dunia balap.
Ia biasanya memilih melakukan refleksi diri terlebih dahulu sebelum berdiskusi dengan keluarga atau orang lain.
“Beberapa hari pertama setelah mengalami tough day, Mario lebih ke refleksi diri sendiri. Setelah sudah clear apa kasusnya dan apa yang harus diperbaiki, baru Mario cerita sama orang lain,” ujarnya.
Veda pun pernah mengalami situasi yang membuatnya mempertanyakan kelanjutan karier.
Pada 2020, setelah sebelumnya terpilih dalam proses seleksi untuk melanjutkan ke tingkat kompetisi berikutnya, pandemi Covid-19 membuat rencana balapnya terhenti.
Pada periode yang sama, Veda mengalami patah tulang paha.
Sekitar empat bulan kemudian, ia kembali mengalami cedera patah tulang kering.
“Di situ aku sudah seperti berpikir tidak bisa balap,” kenangnya.
Setelah kompetisi kembali berjalan, Veda mampu bangkit dan melanjutkan perjalanan kariernya hingga mencapai Kejuaraan Dunia Moto3™.
Meski demikian, ia mengaku pertanyaan mengenai apakah dirinya mampu mencapai target tertinggi masih sesekali muncul.
“Pastinya ada dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah bisa,” ujar Veda.
“Itu mimpi saya. Jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin dan kalau memang bisa, ya alhamdulillah.”
Perjalanan Mario dan Veda menunjukkan bahwa menjadi Indonesian Heroes bukan semata-mata tentang berdiri di podium atau meraih kemenangan.
Ada proses panjang, keraguan, dan perjuangan untuk bangkit yang turut membentuk keduanya menjadi pembalap yang mampu bersaing di level dunia.
Pengorbanan di Balik Karier Balap
Karier sebagai pembalap profesional membuat Mario dan Veda harus mengorbankan banyak waktu bersama keluarga.
Mario mengatakan sebagian besar waktunya sejak kecil telah dihabiskan untuk latihan dan kompetisi.
Kondisi ini membuatnya harus melewatkan sejumlah momen bersama keluarga, termasuk perayaan hari raya.
“Dari kecil waktu saya sudah habis untuk latihan, jauh dari rumah. Setiap ada family occasion, kumpul, Lebaran, dan lain-lain, saya sudah tahun kelima tidak pulang,” kata Mario.
Selain keluarga, ia juga merindukan teman-teman, suasana Indonesia, serta atmosfer sirkuit di Tanah Air ketika menjalani kompetisi di luar negeri.
Hal serupa dirasakan Veda. Kesibukan sebagai pembalap membuatnya tidak dapat menjalani masa sekolah dan masa muda seperti kebanyakan sebayanya.
“Tidak bisa seperti murid-murid atau anak muda lainnya. Kita jarang masuk sekolah, lebih banyak online. Masa-masa kecil yang biasanya anak-anak lakukan, seperti bertemu teman dan lain-lain, kita jarang,” ujar Veda.
Menurut Veda, keluarga, teman-teman di Indonesia, dan makanan Tanah Air menjadi hal yang paling dirindukannya ketika berada jauh dari rumah.
“Yang paling kurindukan makanan, keluarga, terus teman-teman yang biasanya latihan bareng di Indonesia. Walaupun di sini juga ada teman-teman, tapi beda. Beda di Indonesia dan di luar,” katanya.
Pengorbanan tersebut menjadi bagian dari cerita di balik perjuangan kedua pembalap.
Di tengah jadwal kompetisi internasional dan tuntutan untuk terus meningkatkan performa, keluarga dan Tanah Air tetap menjadi sumber semangat bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Indonesian Heroes, Kebanggaan Indonesia di Mandalika
Kehadiran Mario dan Veda di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 membawa makna lebih dari sekadar partisipasi dalam kejuaraan dunia.
Keduanya merupakan representasi semangat Indonesian Heroes, para putra bangsa yang berani bermimpi besar, melewati berbagai tantangan, dan berjuang membawa nama Indonesia di panggung internasional.
Melalui semangat The Rise of Local Heroes dan #IndonesiaMendunia Bersama Pertamina, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi momentum bagi masyarakat untuk memberikan dukungan nyata kepada pembalap Indonesia yang tengah berkompetisi di level dunia.
Dukungan tersebut bukan hanya tentang hasil balapan, tetapi juga tentang menghargai proses, dedikasi, dan perjuangan panjang yang membawa mereka sampai ke titik ini.
Berlaga di hadapan publik sendiri di Pertamina Mandalika International Circuit menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung perjuangan Mario Suryo Aji di kelas Moto2™ dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3™.
Sorak dukungan dari Tanah Air diharapkan menjadi energi tambahan bagi keduanya dalam menghadapi persaingan di lintasan.
Kehadiran dua Indonesian Heroes ini sekaligus memperkuat peran Mandalika sebagai bagian dari ekosistem motorsport nasional dan destinasi penyelenggaraan ajang olahraga internasional.
Lebih dari itu, perjalanan mereka menjadi pengingat bahwa prestasi dunia dibangun melalui proses panjang, disiplin, keberanian, dan kemauan untuk terus bangkit.
Dari rutinitas latihan sepulang sekolah hingga berdiri di panggung kejuaraan dunia, Mario dan Veda membuktikan bahwa mimpi besar membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar.
Kini, di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, perjuangan tersebut berlanjut dengan membawa nama Indonesia.
Mereka bukan sekadar dua pembalap yang berlaga, melainkan Indonesian Heroes yang mengajak masyarakat untuk percaya bahwa talenta Indonesia mampu bersaing dan mengukir prestasi di panggung dunia.
Di Mandalika, semangat itu menemukan panggungnya: tempat perjuangan bertemu dukungan, dan kebanggaan Indonesia melaju bersama para pahlawannya.
Sasamboinside.com – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) kembali menghadirkan…
Sasamboinside.com – Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, menunjukkan semangat pantang menyerah saat tampil di…
Sasamboinside.com — Enam anjing pelacak K-9 dikerahkan menyisir tiga zona pengamanan MotoGP Mandalika 2026, Jumat…
Sasamboinside.com - Di balik deru mesin dan persaingan para pembalap pada Pertamina Grand Prix of…
Sasamboinside.com – Pertamina Mandalika International Circuit secara resmi memperoleh Homologasi Grade A dari Fédération Internationale…
Sasamboinside.com - Operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Teratak 4, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok…