Sasamboinside.com – Nusa Tenggara Barat (NTB) telah dipimpin oleh sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang sejak pertama kali berdiri sebagai provinsi.
Berikut adalah daftar gubernur dan wakil gubernur NTB dari masa ke masa:
1. Raden Ario Muhammad Ruslan Tjakraningrat
Raden Ario Muhammad Ruslan Tjakraningrat, seorang tokoh asal Sampang, Madura, menjabat sebagai Gubernur pertama Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 14 Agustus 1958 hingga 1968.
Ia memimpin provinsi ini di masa-masa awal pembentukannya, memainkan peran penting dalam fondasi pemerintahan daerah yang baru terbentuk.
Sebagai gubernur dari kalangan non-partai, Ruslan Tjakraningrat dikenal sebagai pemimpin yang mengedepankan stabilitas serta pembangunan wilayah yang kala itu masih dalam tahap awal pertumbuhan.
Tantangan utama pada masa pemerintahannya adalah membangun struktur pemerintahan daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperbaiki infrastruktur yang masih minim.
Selama sepuluh tahun menjabat, ia berupaya mengembangkan sektor ekonomi, khususnya pertanian dan kelautan, yang menjadi tulang punggung perekonomian NTB.
Selain itu, ia juga fokus pada pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ruslan Tjakraningrat mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1968, memberikan estafet kepemimpinan kepada penerusnya.
Kepemimpinannya selama satu dekade menjadi bagian penting dalam sejarah NTB, terutama dalam meletakkan dasar pembangunan bagi provinsi yang terus berkembang hingga kini.
2. H.R. Wasita Kusumah
H.R. Wasita Kusumah, seorang tokoh militer dari ABRI–Angkatan Darat, mulai menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 1968.
Kepemimpinannya berlangsung selama dua periode, yaitu dari 1968 hingga 1973, dan kemudian dilanjutkan kembali pada periode 1973 hingga 1978.
Di bawah kepemimpinannya, NTB mengalami berbagai perubahan dalam bidang pemerintahan dan pembangunan.
Sebagai seorang gubernur yang berlatar belakang militer, H.R. Wasita Kusumah menitikberatkan stabilitas keamanan dan keteraturan administrasi dalam menjalankan roda pemerintahan.
Era kepemimpinannya juga bertepatan dengan awal masa Orde Baru, di mana kebijakan nasional berfokus pada stabilisasi ekonomi dan pembangunan daerah.
Selama dua periode menjabat, H.R. Wasita Kusumah berperan dalam berbagai program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB.
Ia juga mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam penguatan sektor pertanian dan infrastruktur sebagai bagian dari upaya meningkatkan perekonomian daerah.
Kepemimpinannya berakhir pada tahun 1978, meninggalkan jejak sejarah dalam perjalanan pembangunan NTB.
Perannya sebagai gubernur di era transisi Orde Baru tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang provinsi ini dalam mencapai kemajuan.
3. Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Gatot Soeherman
Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Gatot Soeherman, putra asal Yogyakarta yang berasal dari Angkatan Darat, menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) selama dua periode.
Ia pertama kali dilantik pada tahun 1978 dan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1983. Setelah itu, ia kembali dipercaya untuk memimpin NTB dalam periode kedua, yakni 1983 hingga 1988.
Sebagai pemimpin daerah, Gatot Soeherman dikenal dengan kebijakan pembangunan yang menitikberatkan pada sektor pertanian, infrastruktur, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Selama masa kepemimpinannya, NTB mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan konektivitas antarwilayah.
Kehadirannya sebagai gubernur dari latar belakang militer mencerminkan kebijakan pemerintahan Orde Baru yang banyak menempatkan tokoh ABRI dalam posisi strategis, termasuk di tingkat daerah.
Kepemimpinannya yang disiplin dan berorientasi pada pembangunan turut membawa NTB ke arah yang lebih maju di zamannya.
Peran Gatot Soeherman dalam sejarah pemerintahan NTB tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan daerah ini menuju kemajuan.
4. Mayor Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Warsito, SH, MM
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Warsito, SH, MM, yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah, menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) selama dua periode.
Ia pertama kali dilantik pada tahun 1988 dan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1993. Setelah itu, ia kembali terpilih untuk periode kedua, memimpin NTB dari 1993 hingga 1998.
Sebagai pemimpin berlatar belakang militer dari Angkatan Darat, Warsito dikenal dengan kebijakan yang fokus pada stabilitas keamanan, pembangunan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB.
Pada masa pemerintahannya, infrastruktur di berbagai wilayah NTB mengalami peningkatan, terutama di sektor transportasi dan pertanian.
Selain itu, Warsito juga mendorong pengembangan sektor pariwisata, yang mulai tumbuh sebagai salah satu potensi unggulan daerah, terutama dengan promosi destinasi seperti Lombok dan Sumbawa.
Di bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial, ia turut memperkuat program-program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di NTB.
Sebagai bagian dari jajaran pemimpin daerah di era Orde Baru, kepemimpinan Warsito tetap dikenang sebagai salah satu fase penting dalam perjalanan pembangunan NTB.
Dengan disiplin dan visi yang kuat, ia meninggalkan jejak yang signifikan dalam perkembangan provinsi ini selama dua dekade terakhir abad ke-20.
5. Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si
Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si, putra asli Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjabat sebagai Gubernur NTB dari tahun 1998 hingga 31 Agustus 2003.
Berbeda dari pendahulunya yang berasal dari militer, Harun Al Rasyid merupakan pemimpin dari kalangan sipil dan tidak berasal dari partai politik. Dalam menjalankan tugasnya, ia didampingi oleh Wakil Gubernur Syahdan.
Masa kepemimpinannya berlangsung di tengah transisi politik nasional pasca-reformasi 1998, yang ditandai dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Harun Al Rasyid berupaya memperkuat pembangunan daerah dengan menekankan stabilitas ekonomi, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan sektor pertanian dan perikanan sebagai tulang punggung perekonomian NTB.
Di bidang sosial dan pendidikan, ia turut mendorong peningkatan akses pendidikan serta kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah pedesaan.
Selain itu, sektor pariwisata juga mendapat perhatian dalam kepemimpinannya, dengan upaya meningkatkan daya tarik NTB sebagai destinasi wisata unggulan.
Sebagai gubernur pertama dari kalangan sipil setelah dominasi kepemimpinan militer di NTB, Harun Al Rasyid meninggalkan jejak penting dalam sejarah pemerintahan daerah.
Kepemimpinannya dikenal dengan pendekatan yang lebih inklusif dan kebijakan yang menyesuaikan dengan dinamika perubahan zaman.
6. Drs. H. Lalu Serinata
Drs. H. Lalu Serinata, putra asli Sakra, Lombok Timur, menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai 31 Agustus 2003 hingga 1 September 2008.
Ia terpilih sebagai gubernur melalui Partai Golongan Karya (Golkar) dan didampingi oleh Wakil Gubernur Bonyo Thamrin Rayes selama masa kepemimpinannya.
Lalu Serinata memimpin NTB dalam periode penting saat implementasi otonomi daerah semakin diperkuat. Ia berfokus pada pengembangan ekonomi berbasis sektor unggulan, seperti pertanian, kelautan, dan pariwisata.
Dalam kepemimpinannya, NTB terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, terutama dengan promosi Pulau Lombok dan Sumbawa.
Selain itu, pembangunan infrastruktur menjadi prioritas dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah, termasuk perbaikan jaringan jalan dan fasilitas umum.
Ia juga mendorong kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat, seperti peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan.
Sebagai pemimpin dari partai politik, Lalu Serinata turut membawa NTB dalam dinamika politik nasional yang semakin demokratis.
Kepemimpinannya meninggalkan jejak dalam pembangunan daerah dan menjadi bagian dari perjalanan NTB menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
7. Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A
Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A., putra asli Selong, Lombok Timur, resmi menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 17 September 2008.
Ia terpilih melalui Partai Bulan Bintang (PBB) dan didampingi oleh Wakil Gubernur Badrul Munir. Masa kepemimpinannya berlangsung hingga 17 September 2013.
Sebagai seorang ulama dan cendekiawan Islam, TGB membawa nuansa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman serta visi pembangunan yang inklusif.
Selama periode pertamanya, ia berfokus pada pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan sektor pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi NTB.
Di bawah kepemimpinannya, pariwisata halal mulai diperkenalkan sebagai salah satu daya tarik NTB, terutama di Lombok.
Selain itu, sektor pertanian dan perikanan juga mendapat perhatian serius untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
TGB juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, dengan mendorong peningkatan akses pendidikan dan pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi.
Kepemimpinannya yang santun dan berbasis nilai religius membuatnya menjadi salah satu gubernur yang cukup berpengaruh di NTB.
Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A., kembali terpilih sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk periode kedua setelah memenangkan pemilihan melalui Partai Demokrat.
Ia resmi dilantik pada 17 September 2013 dan memimpin hingga 17 September 2018, dengan Muhammad Amin sebagai Wakil Gubernur.
Pada periode keduanya, TGB semakin memperkuat pembangunan NTB di berbagai sektor, terutama pariwisata, infrastruktur, dan ekonomi berbasis masyarakat.
Salah satu pencapaiannya yang signifikan adalah semakin berkembangnya konsep wisata halal di Lombok, yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain itu, ia juga berfokus pada penguatan sektor pendidikan dengan memperluas akses beasiswa bagi pelajar NTB, serta peningkatan infrastruktur pendidikan dan kesehatan.
Pembangunan jalan, bandara, dan fasilitas umum lainnya juga menjadi prioritas guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Di bidang ekonomi, TGB mendorong pengembangan industri kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kepemimpinannya yang visioner dan berbasis nilai keislaman menjadikannya salah satu gubernur yang berpengaruh di tingkat nasional.
Masa kepemimpinan TGB berakhir pada 17 September 2018, meninggalkan berbagai jejak pembangunan yang berkelanjutan bagi NTB.
Warisan kepemimpinannya terus menjadi pijakan bagi perkembangan daerah di tahun-tahun berikutnya.
8. Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc.,
Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., putra asli Sumbawa Besar, resmi menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 19 September 2018.
Ia terpilih melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan didampingi oleh Wakil Gubernur Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah. Masa kepemimpinannya berlangsung hingga 19 September 2023.
Selama menjabat, Zulkieflimansyah mengusung visi besar untuk mendorong industrialisasi di NTB guna meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Ia fokus pada pengembangan sektor industri berbasis sumber daya lokal, seperti pertanian, perikanan, dan tambang, serta mendorong hilirisasi produk agar memberikan manfaat lebih bagi masyarakat.
Di bidang pariwisata, kepemimpinannya semakin memperkuat NTB sebagai destinasi unggulan dengan memperkenalkan konsep “Sport Tourism”, salah satunya dengan penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika. Ini menjadi pencapaian besar dalam meningkatkan daya tarik NTB di kancah internasional.
Selain itu, sektor pendidikan dan kesehatan juga menjadi prioritas, termasuk program beasiswa bagi mahasiswa NTB untuk belajar di luar negeri serta penguatan layanan kesehatan berbasis teknologi.
Masa kepemimpinan Zulkieflimansyah berakhir pada 19 September 2023, meninggalkan berbagai program strategis yang diharapkan dapat terus berlanjut untuk kemajuan NTB.
9. Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal S.IP., M. Si
Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal S.IP., M.Si, putra asli Praya, Lombok Tengah, resmi menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 20 Februari 2025. Ia didampingi oleh Indah Dhamayanti Putri sebagai Wakil Gubernur.
Dalam masa kepemimpinannya yang dimulai pada 20 Februari 2025, Lalu Iqbal berfokus pada pembangunan berkelanjutan, dengan prioritas utama pada penguatan sektor ekonomi lokal, pendidikan, dan kesehatan.
Ia mendorong pembangunan infrastruktur yang mendukung konektivitas antarwilayah di NTB, serta mendorong sektor pariwisata yang ramah lingkungan dan berbasis masyarakat.
Sebagai seorang pemimpin, Lalu Iqbal mengusung semangat inklusivitas, mengedepankan program-program yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, tanpa terikat oleh kepentingan politik tertentu.
Program pemberdayaan ekonomi berbasis UMKM dan pengembangan kawasan industri juga menjadi fokus utama dalam agenda pemerintahannya.
Ke depan, Lalu Muhamad Iqbal berharap NTB dapat menjadi model pembangunan yang seimbang antara kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Masa kepemimpinannya diharapkan memberikan dampak positif yang berkelanjutan hingga 2030. (Dikutip dari berbagai sumber)