Sasamboinside.com – Festival Peresean Perang Bintang yang digelar di Lapangan Jontlak, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, sukses terselenggara dengan meriah.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai 1 hingga 4 Februari 2026 tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam memeriahkan event budaya Bau Nyale 2026 dan berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah di Pulau Lombok.
Festival ini diikuti oleh para pepadu dari seluruh penjuru Pulau Lombok yang menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam seni bela diri tradisional khas Suku Sasak, yakni peresean.
Sejak hari pertama pelaksanaan, antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Ribuan penonton memadati area lapangan untuk menyaksikan pertarungan tradisional yang sarat nilai budaya, sportivitas, serta kearifan lokal tersebut.
Ketua panitia kegiatan, Muksin, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan festival ini.
Ia mengapresiasi dukungan masyarakat, tokoh pemuda, aparat keamanan, serta berbagai stakeholder yang ikut membantu sehingga acara berjalan dengan lancar dan kondusif.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat dan pihak yang telah terlibat. Tanpa dukungan bersama, kegiatan Festival Peresean Perang Bintang ini tidak mungkin bisa terselenggara dengan baik,” ujar Muksin saat penutupan acara.
Muksin juga memberikan apresiasi khusus kepada para pepadu yang telah tampil dengan penuh semangat dan sportivitas, sehingga mampu menghadirkan tontonan yang menarik sekaligus menghibur masyarakat.
Menurutnya, partisipasi para pepadu menjadi roh utama dalam menjaga eksistensi tradisi peresean agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, Muksin turut menyampaikan terima kasih kepada Anggota DPRD Lombok Tengah Daerah Pemilihan 1 Praya–Praya Tengah, Hermandi S.Sos, yang dinilai memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.
Dukungan tersebut, kata dia, menjadi motivasi besar bagi panitia untuk terus mengembangkan event budaya lokal di masa mendatang.
Sementara itu, Hermandi S.Sos menegaskan bahwa seni budaya peresean merupakan warisan leluhur masyarakat Sasak yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Ia menilai festival semacam ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal tradisi daerahnya.
“Peresean adalah identitas budaya yang harus kita rawat bersama. Kegiatan seperti ini sangat positif karena mampu memperkuat rasa kebersamaan sekaligus melestarikan warisan budaya,” ungkap Hermandi.
Ia juga menyampaikan rencananya untuk kembali menggelar festival serupa pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki potensi besar menjadi agenda tahunan yang dapat menarik wisatawan serta menggerakkan sektor ekonomi masyarakat lokal.
“Insyaallah kegiatan ini akan kita upayakan dilaksanakan setiap tahun. Untuk lokasi selanjutnya akan ditentukan kemudian,” tambahnya.