Sasamboinside.com – Kehilangan seorang ayah di usia belia menjadi pukulan berat bagi dua putri almarhum Brigadir Esco Fasca Rely. Kini, kedua anak perempuan yang masih berusia 7 dan 4 tahun itu menjalani pendampingan psikologis setelah peristiwa tragis yang merenggut nyawa sang ayah pada Agustus lalu.
Sehari-hari, keduanya tinggal bersama kakek dan neneknya di Desa Bonjeruk, Lombok Tengah. Meski tampak ceria, terutama saat bermain, putri sulung almarhum kerap melontarkan pertanyaan yang membuat keluarga terenyuh.
“Dia sering tanya, ‘ayah di mana?’ Bahkan sampai pernah bilang ‘kalau begitu saya ikut mati saja seperti bapak’. Itu menunjukkan betapa dalam tekanan yang dirasakan,” ungkap kuasa hukum keluarga, Lalu Anton Hariawan.
Anton menuturkan, seorang psikolog sahabat keluarga bersedia memberikan layanan secara sukarela untuk membantu pemulihan mental kedua anak tersebut.
“Kita sama-sama tahu ujian yang dialami keluarga almarhum luar biasa berat, apalagi bagi dua putrinya,” tambahnya.
Keluarga besar Brigadir Esco juga merasakan duka yang mendalam.
Selanjutnya, Acim Jayadi, salah satu kerabat, menyebut bahwa meski kedua anak tampak sehat, sang kakak masih sering larut dalam kesedihan terutama di malam hari.
“Dia sering merenung, lalu bilang ke kakeknya ‘papuq ayo telepon ayah’. Itu yang membuat kami ikut sedih,” kata Acim.
Di sisi lain, keluarga berharap agar kepolisian segera menuntaskan penyelidikan atas kasus kematian Brigadir Esco. Pihak kuasa hukum bahkan telah menjalin komunikasi dengan Kompolnas untuk mendorong adanya gelar perkara khusus.
Brigadir Esco ditemukan meninggal dunia dengan kondisi leher terikat tali di sebuah kebun kosong, tak jauh dari rumahnya di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Lombok Barat, pada Minggu (24/8/2025). Hingga kini, penyelidikan atas kematiannya masih berlangsung. (Her)