Sasamboinside.com — Menyambut peringatan Hari Guru Nasional, tradisi pemberian buket dan bingkisan kepada guru sering terlihat di berbagai sekolah.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Idham Halid, M.Pd, mengimbau agar praktik tersebut tetap dilakukan secara wajar dan tidak menimbulkan beban bagi siswa maupun orang tua.
Dalam pernyataannya, Lalu Idham Halid menyampaikan apresiasi atas perhatian masyarakat terhadap para pendidik, Ia menilai bahwa pemberian buket atau kartu ucapan merupakan bentuk kepedulian dan rasa terima kasih yang tumbuh secara alami dari siswa kepada guru.
“Perhatian dari siswa sekecil apa pun bentuknya sangat kami hargai. Sekuntum bunga atau selembar kartu sudah mencerminkan ketulusan mereka,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya menjaga nilai esensial peringatan Hari Guru agar tidak berubah menjadi ajang kewajiban atau gengsi sosial.
Menurutnya,apresiasi yang diberikan tidak mesti memiliki nilai ekonomi besar.
“Apresiasi tidak harus mahal. Yang utama adalah ketulusan. Hadiah terbaik bagi guru adalah sikap hormat, doa yang tulus, dan semangat belajar dari para siswa,” kata Lalu Idham.
Ia mengingatkan bahwa bentuk-bentuk apresiasi non-materi, seperti ucapan terima kasih, doa bersama, atau penampilan sederhana dari siswa, sering kali jauh lebih bermakna dibanding pemberian barang.
Dinas Pendidikan Lombok Tengah menegaskan tidak pernah mengeluarkan larangan khusus terkait pemberian buket atau bingkisan.
Namun, guru dan sekolah tetap diminta memegang standar etika jabatan yaitu, guru tidak dianjurkan menerima hadiah berlebihan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, sekolah tidak diperbolehkan mengarahkan atau mewajibkan siswa maupun orang tua memberikan hadiah.
Setiap pemberian harus berlangsung secara sukarela dan tidak memunculkan tekanan sosial.
Jika terdapat kekhawatiran bahwa pemberian hadiah dapat menimbulkan penafsiran berbeda di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan menyarankan agar apresiasi diberikan dalam bentuk sederhana dan simbolis.
Dalam penutup keterangannya, Lalu Idham Halid mengingatkan kembali bahwa Hari Guru seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan penghargaan terhadap peran pendidik dalam membangun karakter dan masa depan generasi muda.
“Hari Guru bukan tentang besarnya hadiah, tetapi tentang mengenang ketulusan dan perjuangan para guru yang setiap hari menyalakan cahaya bagi anak-anak kita,” katanya.
Ia berharap peringatan Hari Guru dapat memperkuat hubungan antara sekolah, siswa, dan masyarakat sekaligus menjadi dorongan moral bagi para pendidik.
“Semoga setiap ungkapan terima kasih, sekecil apa pun, dapat menjadi energi positif bagi guru untuk terus berkarya dan mengabdi,” ujar Lalu Idham Halid. (Her)